Sabtu, 09 Oktober 2010

Riwayat Singkat Senior Sulap Indonesia

Marijoen VM
LAHIR : KUTOARJO - 1916

Dilahirkan pada tahun 1916 di Jawa Tengah tepatnya di satu desa daerah Kutoarjo. Pada usia 14 tahun, sebagai murid sekolah Belanda di Kebumen, suatu malam melihat pertunjukan sirkus Harmston yang datang di kota tersebut.Ia sangat tertarik melihat bagian pertunjukan sulap. la benar-benar terpikat pada sulap yang disaksikan.

Malam berikutnya ia berhasil masuk tenda, sekalipun tanpa memiliki tanda masuk. Ia berusaha masuk tenda semata-mata hanya ingin menyaksikan lagi permainan sulap. Entah berapa kali ia menyaksikan sulap pada waktu itu.

Kemudian meneruskan pelajarannya di Sekolah Menengah Belanda di Jawa Barat. Suatu malam ia menonton gambar hidup tentang berbicara perut, pada waktu itu masih dikatakan "buikspreken". Peran utamanya Edgar Bergen dengan parner bonekanya yang dapat berbicara dengan nama Charley Mac Charty.

Lagi-lagi ia tertarik pada pertunjukan ventriloquism. Hari bahagia datang baginya, yakni saat ia mendapat kesempatan mempertunjukan beberapa triks sederhana yang pernah dipelajarinya. Saat tersebut adalah ketika sekolahnya mengadakan pesta perpisahan pada salah satu gedung pertunjukan Soceteit Galunggung Tasikmalaya.

Guru yang memimpin acara pertunjukan adalah berkebangsaan Belanda, memberikan petunjuk tentang sulap. Kepadanya bahkan dipinjami alat sulap berupa passe-passe botle dan beberapa lain nya terbuat dari foam rubber.

Pertunjukan pada malam itu boleh dikatakan baik dan yang penting baginya adalah kepercayaan diri serta pengalaman singkat pada malam perpisahan itu. Pada masa pendudukan tentara Jepang, ia menjadi kyosi dan penerjemah pada Latihan Pegawai Negeri di Jakarta. Satu rombongan akrobat dan sulap yang didatangkan oleh Nippon Sendenbu, memberi kesempatan kepadanya untuk menyaksikan sulap dari rombongan Maru-Ichi yang membuka tendanya. di lapangan Gambir Timur. 

Pada tahun 1951, untuk kedua kalinya ia tinggal dan bekerja di Jakarta. Ia ternyata masih saja berminat pada .hobinya dan selalu mencari kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dalam bi dang sulap dan ventriloquism.

la sempat berkenalan dengan Om Dick (Dick-Trouvaat), seorang penyulap ternama kebangsaan Indo Belanda kelahiran Sumatra Barat yang pada waktu itu beralamat di jI.Surabaya Jakarta. Dari Om Dick ia memperoleh banyak pengetahuan tentang sulap. Dari Om Dick ia mendapat alamat untuk berlangganan majalah sulap, seperti "TRICK" dan"DE MAGIER" dari negeri Belanda.

Dari sebuah toko penjual buku lama di Medan Senen, berhasil dibeli beberapa buku sulap dan satu buku tentang "buikspreken" keluaran Uitgever H. Boiwning, Jogjakarta doeloe. Korespondensi dengan Maher Course of Ventriloquism Detroit, Michigan, menambah banyak pengetahuannya tentang berbicara perut.

Ketika sebuah rombongan akrobat membuka tenda pertunjukan di Yogayakarta, pada lapangan sebelah selatan tembok benteng Vredenburg, ia menyaksikan akrobat dan sulap. la berkesempatan berbincang-bincang dengan seorang seihu (guru) berasal dari Tiongkok yang bertempat tinggal di Semarang. Perhatiannya lain lagi, yaitu tentang ketrampilan keseimbangan (balancing act).

Saat baik dialami lagi, yaitu ia berjumpa dengan keluarga akrobat wanita Wong Giok Hwa di Jakarta. Dari keluarga ini, ia memperoleh contoh peralatan untuk membuat sendiri alat balancing act. Keluarga akrobat tersebut, kemudian membawanya ikut memberi pertunjukan hampir seluruh kota di Indonesia.

Berkat latihan yang sangat tekun dengan mempergunakan alat standar, ia menjadi seorang Indonesia yang menguasai balancing act ala Tiongkok. Marijoen, Ventriloquist Magician dan Balancing act Performer adalah benar-benar seorang self mademan dan akhirnya menjadi oneman-show yang terkenal sejak usia mudanya Kebumen. Walau kini beliau telah tiada, kiranya semangat tidak pernah berhenti belajar beliau bisa menginspirasi kita.

NOTE: Partner beliau dalam foto diatas bernama KOKO (COCO), dan telah menemani beliau selama perjalanan karirnya bertahun tahun sebagai Artis Ventriloque, dan hingga kini KOKO masih tersimpan rapi dan terawat sebagai bukti pernah ada seorang artis besar dalam dunia ventriloque INDONESIA
_________________________________
ALEX H SINYAL (Bram)
LAHIR : Candi, SEMARANG - 1948

"Apa itu sulap?" inilah pertanyaan yang selalu dilontarkannya kepada setiap orang yang mengaku pesulap atau yang ingin mulai belajar sulap.
Sepertinya tidak ada pesulap Pro di Indonesia ini yang tidak mengenal pria satu ini. Orang yang terkenal galak bila melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip sulap. Kecintaannya pada dunia sulap tidak perlu diragukan lagi.

Pertemuannya dengan Van Diense berkebangsaan Belanda pada tahun 1956 ternyata telah mengubah jalan hidup seorang Alex H Sinyal, yang kini akrab dipanggil dengan nama Om Bram atau Om Alex.

Van Diense adalah seorang pastor yang menggunakan sulap sebagai salah satu sarana untuk penyebaran agama atau yang dikenal dengan sulap gospel. Pastor inilah yang telah membuka jalan bagi Alex masuk lebih dalam kedalam dunia sulap. Pada tahun 1958 Van Diense membawa Alex berangkat ke negeri Belanda untuk disekolahkan di sebuah sekolah sulap di negeri tersebut.

Setelah lebih kurang tiga tahun menimba ilmu seni sulap dan menamatkan sekolah sulap di negara kincir angin tersebut, akhirnya Alex berhak menyandang sebutan Amateur Magician dan kembali ke Indonesia.

Sekembalinya ke Indonesia, Alex mulai mempertunjukkan ilmu yang didapatkannya tesebut dengan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Hingga akhirnya pada tahun 1965, Alex telah memilih sulap sebagai profesi utamanya.

Berkelana dari satu night clubs ke night clubs, dari satu restoran ke restoran lain, telah menggemblengnya dan semakin yakin bahwa sulap adalah jalan hidupnya, dan memutuskan akan mengabdikan hidupnya pada seni sulap.

Pada tahun 1970, Alex telah terdaftar sebagai anggota International Brotherhood of Magician (IBM) dan Linkin Ring. Tur sulap keliling Jawa Tengah pernah dilakoninya dan mendapat penghargaan dari Pangdam Diponogoro waktu itu, dan Penghargaan dari PMI setelah dia merampungkan tur sulap keliling Jawa Barat, dan menurutnya sulap telah membawanya hampir ke seluruh bagian wilayah Indonesia.

Pada tahun 1975, Alex membuka sebuah toko sulap di jakarta dan mendapat pengakuan dari dunia sulap internasional sebagai dealer resmi alat dan perlengkapan sulap di Indonesia. Pada masa itu adalah masa keemasan bagi dunia sulap Indonesia, dan akhirnya Alex mendirikan pabrik alat sulap, dan menjadi manufakturer sulap pertama di Indonesia. Standing Voodoo Doll versi jerami adalah salah satu kreasi beliau yang masih populer hingga sekarang. Alex juga mendirikan sekolah Sulap di Jakarta yang telah banyak melahirkan pesulap pesulap berbakat Indonesia. 

Dan hingga kini Alex masih aktif mengajar disekolah sulapnya, dan menjadi konsultan pesulap pesulap muda.
________________________________

BING RAHARDJA (Bing)
LAHIR : REMBANG - 1960

Apa yang diucapkan Basoeki Gandarahardja mengutip peribahasa Cina, benar adanya. “Perjalanan ribuan mil berawal dari satu langkah,” kata pesulap yang beken dengan nama Bing Rahardja,
Bagi Bing, “satu langkah” itu dimulai pada suatu hari ketika di sekolahnya diadakan pertunjukan sulap yang dimainkan oleh seorang pesulap bisu. Hanya berbekal bahasa isyarat dan gerak tubuh, namun sang pesulap mampu memikat perhatian seluruh hadirin, baik para guru apalagi anak-anak didik. “Dia mampu membuat kami duduk terpaku karena terpesona oleh sulapnya yang ajaib,” katanya. Bing melihat, kepercayaan diri pesulap bisu itu sangat besar. Dia memiliki sesuatu yang khusus, yang professional: sulap!

Sejak itu, Bing bertekad mampu memainkan sulap. Sayang, ia tak seperti si bisu. Ia memiliki kendala ini: pemalu dan kurang percaya diri. Mungkin karena ia anak bungsu dan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya, Bing selalu dilindungi oleh kedua kakaknya. “Saya pemalu dan kurang percaya diri. Teman saya sedikit dan saya tidak pernah berani berbicara di depan orang banyak,” tutur Bing mengingat masa kecilnya.

Pengalaman menyaksikan keberanian dan kemahiran pesulap bisu ternyata bagaikan hantaman di kepalanya. Ini membuatnya tersadar: Tuhan memberi bakat-bakat khusus terhadap setiap manusia. Ia harus mengembangkan bakat yang tentu dimilikinya.

Ketika tekadnya membulat, datang pula kendala lain. Rembang, tempat Bing lahir, bukan kota besar. Sumber informasi berupa buku-buku dan peralatan sulap terbilang minim. Sebenarnya ada seorang Pak Tua, tetangganya, yang boleh disebut pesulap amatir. Sayang setiap Bing kecil minta diajari bersulap, ia selalu ditampik. “Kamu masih kecil, nanti saja kalau sudah besar,” kata orangtua itu. Si kakek tampaknya khawatir kalau ilmu sulap nantinya disalahgunakan buat macam-macam. 

Pada suatu Kamis menjelang senja, Bing kecil bersepeda ke pasar. Pada hari pasar itu, di keramaian pedagang ia menemukan sesuatu: tukang sulap!
Yang membuatnya girang, pesulap itu tak hanya unjuk kebolehan, tapi juga menjual buku bermain sulapnya. Tanpa menunggu lebih lama, ia membeli “buku rahasia sulap”-nya yang pertama. “Gembira sekali rasanya, serasa pintu dunia sulap mulai terkuak,” ucapnya.

Permainan tali adalah yang pertama ia kuasai; sayang, ia belum mampu mempertontonkannya. Ia masih Bing yang pemalu. Tetapi beberapa temannya yang mengetahui kemampuan barunya itu. Lalu, dengan setengah dipaksa, ia menunjukkan kebolehannya ber-simsalabim – dan berhasil “mengelabui” para teman dan kerabat. “Hidup saya pun berubah. Dari bocah pemalu, saya menjadi seorang yang ceria penuh tawa. Rasa percaya diri saya pun tumbuh,” kenangnya.
Sebenarnya, cita-cita asal Bing adalah menjadi pelukis, yang kemudian pupus dan tergantikan oleh minat pada sulap. Dan orangtuanya pun tidak keberatan. Apalagi sejak kecil kegemarannya bermain sulap tak mengganggu sekolahnya; nilai rata-rata rapornya tujuh.
Selepas SMA ia merantau ke Jakarta, dan melanjutkan kuliahnya di Yayasan Administrasi Indoneisa (YAI). Sembari kuliah ia juga bekerja. Di sela-sela rutinitas itu ia masih belajar sulap. Suatu ketika, nasib mempertemukannya dengan Sanjaya dan Rudolf Morate, di daerah Glodok, pusat kegiatan usaha di Jakarta Barat. Kedua kenalan barunya itu pesulap professional. Mereka juga suka bermain di Glodok. “Setiap ada show saya tonton. Sampai lima kali pertunjukan dalam sehari semua saya saksikan,” aku Bing. 

Rudolf tahu, ia mempunyai seorang penonton setia, Bing Rahardja. Dalam satu kesempatan, pesulap ini menyatakan kesediaannya mengajari ilmu bersulap pada Bing. “Ia guru sulap pertama saya,” kata Bing, yang lalu menerima pelajaran bersulap lima kali dalam seminggu.
Sebagai pesulap, ia pertama dibayar pada akhir 1980-an. Itu lantaran pemilik paviliun yang menjadi tempat ia berkantor mengetahui kemahirannya bermain sulap. Nah, saat pemilik paviliun tadi berpesta ulang tahun, Bing pun ditanggap bermain, dan dibayar sebesar Rp 25 ribu – dan inilah honornya yang pertama. Ia bukan saja girang mendapat uang, tetapi juga terdorong menjadikan sulap sebagai profesinya. “Padahal waktu itu presentasi saya masih kurang bagus,” kata Bing.

Tapi Bing sempat ragu melihat nasib pesulap yang selalu dianggap “pelengkap penderita” oleh pengundang. Kalah pamor dengan badut. “Ini juga saya alami ketika mulai banyak dapat show. Terutama soal tempat, mereka seolah tak mau tahu sulap butuh persiapan sebelum turun bermain,” keluhanya. Pengalaman berbeda ia terima dari pengundang ekspatriat. Mereka misalnya tidak menyajikan makanan pada anak-anak saat pertunjukan berlangsung, sehingga konsentrasi mereka hanya tertuju kepada pemainan. 

Sesekali, Bing mengalami kegagalan ketika tengah ber- bim salabim. Tapi ia menyadari, ini bagian dari risiko profesi yang tak terhindari sama sekali. Sulap bagi Bing bukan sekadar “melenyapkan” benda dari “penglihatan” penonton, tapi seni untuk menghibur. “Kita sebagai pesulap sebenarnya aktor yang bermain, dan membuat penonton terpaku,“ jelasnya. Nah untuk urusan ini, Endang Winarti turut andil. Istrinya ini lulusan fakultas sastra Inggris, yang mengajarinya bertutur secara terstruktur. Atau mengoreksi tiap penampilannya. “Dukungan keluarga memang sangat berarti bagi saya,” ujar ayah dari Berwidetye Paramita, Joseph Christian, dan Johannes Mario itu.

Sekali tampil, Bing biasanya menerima honornya di atas Rp 1,5 juta, dengan rata-rata 100 kali pertunjukan tiap tahun. Penghasilan lain didapatnya dari mengajar sulap sebagai mata pelajaran tambahan di Jakarta International School. Ada pengalaman menarik saat mengajar di JIS. Ada seorang anak didiknya yang gagap. Si anak ia ajari main sulap sembari memberi presentasi. Hasilnya luar biasa! Si anak bukan saja dapat bermain sulap, tetapi juga menjadi lancar berbicara. Orang tua si anak berterima kasih kepadanya. “Dan saya senang saja karena secara tidak langsung bisa membantu orang lain,” ujarnya.
_________________________________

Robbin Massari (Mr Robin)
13 Februari 1953 -16 September 2009

Nama Mr Robin tentu tidak asing lagi, pesulap senior yang selalu berpenampilan bak tentara Rusia dengan topi bulu. Bersama sang istri yang menjadi asistennya, pertunjukkan sulap Mr Robin termasuk yang paling ditunggu oleh penonton TVRI, terutama anak-anak.

Bernama asli Robbin Massari, pria yang lahir 55 tahun yang silam ini rasanya patut di acungi jempol karena hanya menggeluti profesi menjadi pesulap sepanjang hidupnya atau kurang lebih selama setengah abad.

Ayahnya adalah seorang pesulap, dan hitung punya hitung, sepanjang karirnya 52 negara sudah di kunjunginya termasuk Afrika. Bagi anda yang pernah menikmati siaran TVRI tahun 80-an, pasti sudah tidak asing lagi dengan penampilannya membawakan acara sulap untuk anak-anak.

Salah satu wujud kecintaannya pada sulap adalah dengan mendirikan Sekolah sulap yang bernama Magic Art Studio (MAS). Sekolah sulap ini telah berdiri cukup lama, yakni pada 1973 di Jln. Diponegoro Bandung.

Ketika itu, Mr. Robbin yang pamornya tengah melejit kedatangan sejumlah orang dari berbagai kelompok usia yang ingin belajar sulap. Robbin yang dikenal pemurah itu dengan senang hati mengajarkan trik-trik sulapnya tanpa dipungut biaya. Bagi pria bernama lengkap Robbin Massari itu, berbagi ilmu sama dengan ibadah.

Maka tak heran, seiring perjalanan waktu, sekolah sulap MAS banyak dikunjungi orang. MAS sempat berpindah lokasi ke Padasuka. Selama lebih 24 tahun, Robbin membina anak didiknya di tempat itu.

Selanjutnya pada tahun 1997, Robbin memboyong keluarganya pindah rumah ke Jln. Gatot Subroto Cimahi. Di sana ia tetap mengembangkan kariernya sebagai pesulap di samping membina generasi penerusnya.

Di area tersebut, MAS yang kini dikelola istri Robbin, Nining Kardini beserta tiga anaknya, Simli Kardin, Melina Herriani, dan Chinny Emmaleea menempati sebuah gedung berkuran sekitar 8 x 12 meter dengan atap asbes mirip sebuah GOR bulu tangkis. Di dalamnya, terdapat ribuan alat sulap yang dimiliki Robbin sejak masih aktif.

MAS telah mampu melahirkan pesulap-pesulap muda yang kini tengah ngetop. Sebut saja Rizuki, Joe Shandy hingga duo waria asal Cimahi Adis dan Velis yang kerap menuai simpati di panggung hiburan.

@Tutup usia pada tanggal 16 September 2009, sekitar pukul 20.00. di kediamannya di Jalan Gatot Subroto, Cimahi, karena serangan jantung.
_____________________________________________

1 komentar:

cari sekolah sulap dimna ya ?

Posting Komentar

tulis komentarnya yah...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites